Aptg

Aptg
Asia Pacific Telecom Co.Ltd

Advertisements

hiburan dijalan

Ceritanya saya baru pulang dan lewat rel kereta, belum sampai rel sirine sudah berbunyi dan menandakan kereta akan lewat. dan di depan saya sudah ada anak muda dengan santainya juga melaju ke arah rel. karena kesabarannya dia nunggu meskipun palang belum turun. setelah palang kereta turun dia mendonga ke atas ternyata tidak kena kepala tetapi pas di tengah motor. jadinya seperti digambar ini 😀
sama pengendara sebelah jekikikan menahan tawa sambil nunggu kereta lewat. makasih sudah dihibur mas

10 maret 2014

serius judulnya 10 maret 2014, meskipun tanggal posting hari ini 14 april 2014. Hari ini saya agak shock (lebay dikit) lihat presensi MK eis sampai hari ini baru 3 kali pertemuan 😦 dan minggu depan sudah UTS.

Aturanya MK yang akan di uts-kan minimal 6 pertemuan, jadi 3 pertemuan lagi di taruh dimana. Usut punya usut ada 3 kali kosong, pertama 10 maret 2014, 31 maret 2014 dan 7 april 2014. walaupun sempat bingung kok bisa kosong 3 kali berturut-turut ternyata karena ada tgl merah juga karena bapak sakit. jadi sebagai anak sudah seharusnya gantian merawat meskipun imbasnya mengkosongkan kelas aka absent kerja.

Good well soon ya pak, biar bisa nyawah lagi

 

Oh Telkomku

Tulisan ini adalah lanjutan dari  “ruwetnya telkomku“. Kemarin saya pergi ke plasa telkom untuk crosscek yang kedua kalinya tentang komplen tagihan telpon rumah yang tidak pernah dipakai tetapi tagihanya selalu 100rb flat.

setelah nomor antrian di sebut sama mba cs, kemudian saya ceritakan kronologisnya. dan dengan sigap mba cs langsung mengeksekusi komplen saya dengan melihat data di komputernya dan katanya sudah tidak ada tagihan flat 100rb.

dari plasa telkom kemudian saya menuju atm BPD untuk membayar tagihan, dan ternyata benar tagihan sudah sesuai. keisengan muncul kembali setelah membayar yaitu ingin mengetahui nomor mana saja yang telah dihubungi.

Setelah sampai loket untuk print rincian biaya alangkah terkejutnya (lebay dikit) loket telkom loket printprint Perusahaan sebesar Telkom loket layananya seperti perusahaan kelas KUD di kampung…hmm. Semoga hanya tampilanya saja, tetapi layanan tetap berkelas perusahaan Besar – semoga

P Coret

Sewaktu kita masih muda pasti pengin cepet punya sim khususnya yang C. Tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan, kita harus ke kantor polisi kemudian tes 2 kali yaitu teori dan praktek. Jika tidak lulus salah satunya maka sim tidak akan bisa di dapat, kecuali pakai jurus khusus. Ya jurus khusus dan sekarang ganti istilah menjadi sertifikat mengemudi.

Sewaktu tes teori pasti kita akan mengerti apa maksud dari berbagai macam tanda yang ada di jalan. contoh adalah rambu warna merah berisi huruf P dan di coret. pasti sudah mengerti semua bahwa artinya tidak boleh parkir. kemudian ada tanda stop, berarti kita harus berhenti atau memutar balik.

Sewaktu Kemarin saat mengantar mertua ke kantor UC UGM pagi hari tidak sengaja ketemu mobil bagus yang parkir di depan pintu UC dan untungnya lagi ada rambu P merah di coret. Apa yang anda pikirkan, orangnya tidak tahu atau kebelit pipit atau emang nekatdz.

Hari gini masih melanggar rambu lalu lintas dan berada di lingkungan UGM yang pasti orangnya berpendidikan tinggi, apa kata dunia.

Image

*foto diambil dengan camera hTc desire c

budaya

budaya atau culture adalah kebiasaan kecil yang terus menerus dipelihara. Di bawah adalah budaya “negatif” yang ada

1. ujian susulan aka shortcut. kuliah satu semester diganti dengan tugas 1/2 jam saja

2. ujian remidi supaya nilai naik karena sudah merasa membayar 2 kali

3. semua bisa ditawar

4. laporan yang ngasal

5. ujian yang bisa buka google dengan handphone

6 . pengawas ujian yang hanya sebagai pelengkap

7. ..

“ruwetnya” Telkom ku

cerita ini bermula dari kecurigaan tagihan telpon rumah yang dari bulan ke bulan tetap 300 ribu (200 speedi dan 100 telpon). yang membuat aneh adalah tagihan telp tetap 100 rb meskipun pemakaian minim. sesuai data di telkom bahwa biaya abunemen adalah sekitar 30 rb. 

ternyata setelah datang ke plasa telkom kota baru, baru ketahuan bahwa no rumah saya langganan biaya flat sebesar 75 rb jadi secara otomatis tagihan minimal adalah 100rb. 

setelah tanya-tanya telkom melakukan tagihan flat 75rb karena kita sudah menyetujui langganan ini meskipun menyetujuinya dengan “agak paksaan” karena kita di telpon kemudian sepenelpon akan cerita ngalor ngidul dan kemudian mengarahkan kita untuk pindah paket.

huh sungguh busuknya …. karena ingin pendapatan bulanan yang gede dengan menjebak pelanggan………. apa tidak ada cara yang lebih fair dan jujur. 

setelah komplen di plasa telkom mba cs menawari  untuk print rincian telp. saya ok saja, eh ternyata printer rusak dan anehnya perusahaan “sebesar” telkom tidak bisa memberikan print tagihan telp secara online..wah…..&*()(**)(*)(_)(. mungkin kalo setiap pelanggan bisa ngeprint sendiri akan timbul banyak komplen dan juga koperasi yang mengurusi print biling jadi kena imbas dan tidak punya ladang lagi.

aduh….naseb BUMN ku. dulu punya cita-cita masuk di sini tapi ternyata kok ……………..